Sabtu, 28 Maret 2015

SUMBER KETEKUNAN

Darimanakah ketekunan itu diperoleh manusia? Lukas 8:15 menyebutkan: "Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan." 2 Petrus 1 :16, menyebutkan : ........dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan. Berlandaskan 2 ayat di Alkitab ini kita melihat bahwa ketekunan adalah hasil dari suatu "proses" yang dialami oleh manusia demi pencapaian suatu tujuan. Apabila dalam pencapaian suatu tujuan tidak melewati suatu proses, maka hal inilah yang kemudian terjadi praktek-praktek yang menyimpang dan menghalalkan segala cara untuk mencapai suatu tujuan. Sebab tidak dapat dipungkiri dalam pengalaman menjalani "proses" dalam pencapaian tujuan seringkali tidak enak untuk daging manusia yang keinginannya hanya "mengenakkan" daging. Contoh seorang pelajar atau mahasiswa mau dapat nilai bagus....nyontek dll dan tidak mau belajar sungguh-sungguh alias tidak memiliki ketekunan dalam belajar. Cara belajar di sekolah atau kuliah yang tidak melewati proses inilah yang kemudian terbawa dalam cara mencari pekerjaan atau dalam melakukan pekerjaan. Sehingga tidaklah mengherankan apabila dalam prakteknya terjadi kecurangan-kecurangan dalam pekerjaan, usaha, bisnis sampai dugaan anggaran yang bocor pada pemerintah yang menghebohkan. 
Sedangkan sumber ketekunan itu jika merujuk dari ayat Alkitab yang dikutip di atas adalah menunjuk adanya suatu "proses" untuk mencapai suatu hasil (benih jatuh ke tanah, tumbuh menjadi biji, bertunas, berakar sampai menjadi suatu pohon yang menghasilkan buah). Buah ketekunan yang berawal dari adanya pengetahuan yang kita miliki dengan cara memperolehnya dengan benar yang ditunjukkan pada adanya "penguasaan diri" yang dicaro dengan sungguh-sungguh yang diperoleh dari ketekunan.
Apa yang dihasilkan dari ketekunan? Contohnya Ayub, yang disebut berbahagia karena ketekunannya dalam menghadapi penderitaannya. Coba dipikirkan apabila Ayub tidak bertekun dalam penderitaannya alias lari atau putus asa dan hanya mengikuti kata hatinya atau mengambil jalan sendiri bukan kehendak Tuhan. 
Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan  Ayub   dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan   Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.  Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar