Sabtu, 18 April 2015

Ibadah Raya Malang, 19 April 2015 (Minggu Pagi)

Ibadah Raya Malang, 19 April 2015 (Minggu Pagi)
[reload halaman ini - auto reload 5 menit]

Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus.

Wahyu 2-3 adalah tujuh kali percikan darah di depan Tabut Perjanjian, yaitu penyucian terakhir yang Tuhan lakukan kepada tujuh sidang jemaat bangsa Kafir atau sidang jemaat akhir jaman supaya tidak bercacat cela dan sempurna seperti Dia, untuk layak menyambut kedatanganNya kedua kali di awan-awan yang permai.

Wahyu 2:26-292:26 Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa;
2:27 dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi; mereka akan diremukkan seperti tembikar tukang periuk — sama seperti yang Kuterima dari Bapa-Ku —
2:28 dan kepadanya akan Kukaruniakan bintang timur.
2:29 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."

Janji Tuhan kepada sidang jemaat Tiatira yang menang:
  1. Memerintah bangsa-bangsa bersama Yesus dengan tongkat besi.
  2. Tuhan mengaruniakan bintang timur. 

ad. 1. Memerintah bangsa-bangsa bersama Yesus dengan tongkat besi.
Ini sama dengan duduk di tahta penghakiman bersama Tuhan.

Siapa yang akan dihakimi/ dihukum? Yaitu bangsa-bangsa akan diremukkan dengan tongkat besi seperti tembikar. Tembikar adalah bejana tanah liat yang pecah, hancur lebur, sampai binasa selamanya.
Tanah liat menunjuk pada manusia darah daging. Tanah liat dibentuk oleh penjunan menjadi bejana.

Yeremia 18:618:6 "Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!
Dalam Perjanjian Lama, Tuhan tampil sebagai Penjunan atau tukang periuk bagi bangsa Israel.
Dalam Perjanjian Baru, Tuhan tampil sebagai Penjunan atau tukang periuk bagi Israel rohani atau gereja Tuhan, yaitu bangsa Israel asli ditambah bangsa Kafir.

Tuhan merindukan semua manusia, termasuk gereja Tuhan yang terdiri dari Israel dan Kafir, untuk selalu berada dalam tangan Tuhan Sang Penjunan, untuk dibentuk menjadi bejana yang berguna bagi Tuhan dan sesama. Ini sama dengan menjadi pelayan Tuhan.

Ada 2 kemungkinan tentang tanah liat:
  1. Tanah liat berada di luar tangan Tuhan Sang Penjunan, berarti berada di tangan setan.
    Tanah liat yang berada di tangan setan, akan dibakar oleh api yang dari setan, yaitu api dosa, api hawa nafsu daging, dan api dunia. Sehingga tanah liat dibakar menjadi batu bata, yaitu pelayan setan.

    Efesus 2:12:1 Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.
    Tandanya adalah mati rohani, kering rohani, yaitu:
    • Tidak setia lagi, bahkan tidak mau lagi beribadah dan melayani Tuhan.
    • Tidak puas, sehingga selalu bersungut-sungut, bergosip yang tidak benar, mencari kepuasan-kepuasan lain di dunia. 
    • Hidup dalam dosa sampai puncaknya dosa, yaitu dosa makan-minum (merokok, mabuk, narkoba) dan dosa kawin-mengawinkan (dosa seks dengan aneka ragamnya lewat pandangan, pikiran, perbuatan, dll). 

    Kejadian 11:3-4,911:3 Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik." Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat.
    11:4 Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi."
    11:9 Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi.


    Batu-bata akan dipakai untuk membangun Babel. Hidupnya menjadi kacau-balau, nikahnya kacau-balau, hidupnya tidak berguna dan hancur lebur, sampai binasa selamanya.
  2. Tanah liat berada di dalam tangan Tuhan Sang Penjunan.
    Mazmur 103:8-14103:8 TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.
    103:9 Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.
    103:10 Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,
    103:11 tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia;
    103:12 sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.
    103:13 Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.
    103:14 Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.


    Kalau tanah liat di tangan Tuhan, maka Tuhan selalu ingat bahwa kita hanya debu belaka, yaitu manusia darah daging yang banyak kekurangan dan dosa-dosa. Sehingga Tuhan tidak menghukum, tetapi mengampuni kita dengan cara menanggung segala dosa dan kutukan dosa di kayu salib.
    Kalau Tuhan ingat, kita juga harus selau ingat dan sadar bahwa sehebat apa pun kita, kita hanya manusia tanah liat yang banyak kekurangan sehingga harus selalu berada dalam tangan Tuhan.

    Praktek sehari-hari mengaku tanah liat:
    • Merasa tidak layak, banyak kekurangan, sehingga mendorong kita untuk suka berdamai.
      Berdamai sama dengan datang pada salib Tuhan untuk menyelesaikan dosa-dosa. Caranya:
      1. Mengaku dosa kepada Tuhan dan sesama dengan sejujur-jujurnya, mulai dari dosa kenajisan dan kepahitan, juga dosa kejahatan dan kebenaran diri sendiri. 
        Yohanes 4:94:9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)
        Orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria menunjuk pada kepahitan, tidak menyapa.
        Dosa kejahatan menunjuk pada perkataan sia-sia, bergusta, gosip yang tidak benar. Dosa kejahatan juga menunjuk pada cinta akan uang, yang mengakibatkan kikir (tidak bisa memberi) dan serakah (merampas hak orang lain dan hak Tuhan yaitu perpuluhan dan persembahan khusus).
        Kebenaran diri sendiri adalah menutupi dosa dengan menyalahkan orang lain bahkan menyalahkan Tuhan.

        Setelah mengaku dosa, jika diampuni jangan berbuat dosa lagi.
      2. Mengampuni dosa orang lain yang sudah mengaku sejujur-jujurnya, dan melupakannya.
    • Merasa tidak mampu, sehingga mendorong untuk menyerah sepenuh kepada Tuhan.
      1 Petrus 5:75:7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.

      Kita bisa menyerahkan semua kekuatiran kita, sampai menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan. Maka kita bisa tergembala dengan benar dan baik, artinya:
      1. Selalu berada di kandang penggembalaan.
        Dalam Tabernakel menunjuk pada Ruangan Suci. Di dalamnya terdapat 3 macam alat yang menunjuk pada ketekunan dalam 3 macam ibadah:
        • Pelita Emas, yaitu ketekunan dalam Ibadah Raya, persekutuan dengan Allah Roh Kudus di dalam urapan dan karunia-karuniaNya. Ini sama dengan dibakar dengan api Roh Kudus. 
        • Meja Roti Sajian, yaitu ketekunan dalam Ibadah Pendalaman Alkitab dan Perjamuan Suci, persekutuan dengan Anak Allah dalam firman pengajaran yang benar dan korban Kristus. Ini sama dengan dibakar dengan api firman Allah.
        • Mezbah Dupa Emas, yaitu ketekunan dalam Ibadah Doa, persekutuan dengan Allah Bapa dalam kasihNya. Ini sama dengan dibakar dengan api kasih Allah.
        Dalam penggembalaan, tubuh, jiwa, roh kita bersekutu dengan Allah Tritunggal, sehingga kita dibakar oleh api Roh Kudus, api firman, dan api kasih Allah, sehingga kita menjadi batu hidup, yaitu pelayan Tuhan atau imam dan raja.
      2. Taat dengar-dengaran pada Suara Gembala atau firman penggembalaan, sampai daging tidak bersuara lagi. 

    Maka tanah liat berada dalam tangan anugerah Tuhan yang besar dan tak ada habis-habisnya.
    Hasilnya:
    • Tangan kemurahan dan anugerah Tuhan akan membentuk kita menjadi bejana kemuliaan Tuhan.
      Roma 9:21-249:21 Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?
      9:22 Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan —
      9:23 justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan,
      9:24 yaitu kita, yang telah dipanggil-Nya bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain,


      Artinya kita dipakai dalam pelayanan pembangunan tubuh Kristus yang sempurna.

      1 Petrus 2:52:5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.
      Kehidupan yang melayani dan memuliakan Tuhan sama dengan batu hidup, yaitu kita hidup dari anugerah dan kemurahan Tuhan yang besar dan tidak ada habis-habisnya. Kita bisa hidup di mana saja, kapan saja, situasi apa saja, sampai hidup kekal selama-lamanya.
    • Tangan kemurahan dan anugerah Tuhan sanggup menjadikan semua baik.
      Yeremia 18:418:4 Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.

      Artinya:
      1. Bejana yang sudah rusak bisa diciptakan menjadi bejana baru untuk kemuliaan nama Tuhan. 
      2. Tangan kemurahan Tuhan sanggup memberikan masa depan yang berhasil dan indah pada waktuNya.
    • Tangan kemurahan dan anugerah Tuhan sanggup menciptakan kita sampai kembali pada gambar dan rupa Allah Tritunggal.
      Kejadian 1:26a1:26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, ...
      Kita menjadi sempurna seperti Dia, layak menyambut kedatangan Tuhan kedua kali di awan-awan yang permai, dan duduk di tahta penghakiman bersama Dia. 


Tuhan memberkati.

Jumat, 17 April 2015

Pengampunan

Adakah yang lebih bahagia bagi kita jika kita yang sudah jelas salah,tetapi tidak dipersalahkah malahan kesalahan kita tidak diperhitungkan lagi oleh seseorang dimana kita telah melakukan kesalahan? Sebab sepantasnya orang yang salah mendapatkan hukumannya....tapi bagaimana jika kita yang seharusnya dihukum malah diberi kebebasan? Pernahkah kita berpikir bagaimana besar dan berhargannya pengampunan yang telah kita terima dari "kayu salib". Apabila kita menyadari betapa besar pengorbanan yang telah dilakukannya untuk kita manusia yang berdosa. Dia rela menanggung kesalahan dan dosa-dosa kita manusia. Mengapa kita sering melupakan pengorbananNya di kayu salib?
Mungkin kita bertanya bagaimana aku bisa melupakan pengorbananNya di kayu salib yang telah menebus dosaku hingga aku bisa memperoleh keselamatan dari padaNya? Sering kita manusia tidak menyadari.....saat kita mempersalahkan orang lain dan menganggap diri benar dan tidak mau melupakan dosa orang lain alias tidak mau mengampuni dan melupakan dosa orang lain maka disitulah sebenarnya kita telah melupakan pengorbananNya dan bagaimana kita melupakan bahwa dosa kita telah diampuni dan ditanggungNya....sedangkan Dia telah berseru "sudah selesai". Dia telah menyelesaikan dosa kita, tapi mengapa seringkali kita sesama manusia gengsi menyelesaikan dosa kita dengan Tuhan dan sesama?
Adakah kita sampai menyerahkan nyawa kita untuk menanggung dosa orang lain.....mungkin kita harus berkorban perasaan utk mengampuni dan melupakan dosa orang lain....tetapi itu tidak seberapa dari apa yang telah Dia berikan untuk kita....nyawa yang sdh diberikan utk kita....mengapa kita hanya perasaan saja tidak mau kita korbankan utk mengampuni sesama kita?
Sebenarnya dengan kita dapat mengampuni dan melupakan dosa sesama kita sedang diberi kebahagiaan oleh Tuhan....kebahagiaan yang hanya kita peroleh dari atas kayu salib....menderita (korban perasaan) tetapi ada kebahagiaan sorga yang tidak kita bisa ceritakan melainkan hanya dapat dirasakan oleh orang yang mengalaminya dan inilah yang dinamakan kebahagiaan sorgawi yang tidak dipengaruhi oleh perkara yang ada di bumi.
Untuk mendapatkan kedamaian kuncinya adalah mengakui segala dosa kita (menghakimi diri sendiri,tidak menghakimi orang lain) dan mau mengampuni dosa orang lain dan melupakannya sama seperti Yesus yang sudah mengampuni dan melupakan dosa kita.
Semoga kita menyadari dan selalu mengucap syukur atas apa yang telah dikorbankannya untuk kita.
Semoga Damai sejahtera Allah mengaruniakan kasih anugerahnya bagi kita.Amin

Jumat, 10 April 2015

SELF-LEARNING IN TEACHER’S PERFORMANCE Debora Universitas Palangka Raya Jl. Yos Soedarso Tunjung Nyaho Unpar Palangka Raya Kalimantan Tengah dugau@yahoo.com

Abstract
This objetive of the research was to investigate the effect of Self-Learning and Trust On Job Performance Teacher. It was a quantitative research with a Causal Study on State vocation school teacher of Palangka Raya city in central Kalimantan state.The data were collected through participant observation using questioner with five options following Likertʹs Scale.  Samples of the research were 74 of teachers taken by using simple random sampling. While the analyzing technic to prove between research variable using path analysis method.The results of the research indicated a affect directly and positively of Self-Learning on Job Performance.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh positif secara langsung pembelajaran diri (Self-Learning) terhadap Kinerja Guru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data penelitian menggunakan angket dengan 5 (lima) pilihan mengikuti model skala Likert’s 1-5. Sampel penelitian 74 orang guru SMK-Negeri Palangka Raya Kalimantan Tengah yang diambil dengan sampling random sederhana. Analisis data menggunakan teknik analisis jalur untuk mendapatkan pengaruh langsung dari variable Self-Learning (X) terhadap variable kinerja (Y). Hasil penelitian ditafsirkan terdapat pengaruh positif secara langsung Self-Learning terhdap kinerja guru

Key Word :  Self- Learning, Job Performance

       Performance guru dalam melaksanakan tugas, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran sebagai gambaran dari kemampuan atau kompetensi guru dalam menerjemahkah kurikulum, penguasaan materi dalam suatu perencanaan pembelajaran,  maupun ketrampilan mengajar guru dalam pelaksanaan pembelajaran, sampai dengan kemampuan guru dalam mengevaluasi hasil belajar siswa.Rendahnya kemampuan atau kompetensi guru dalam pelaksanaan tugas pekerjaannya merupakan gambaran kinerja guru yang rendah.     Seperti data yang diperoleh dari lembaga pelatihan P4TK/VEDC Malang pada tahun 2009, tentang pelatihan uji kompetensi dari 12 peserta, yang lulus uji kompetensi hanya 6 peserta. Demikian pula halnya pada tahun-tahun sebelumnya seperti, pada tahun 2006, dengan jumlah peserta 12 guru, yang lulus uji kompetensi hanya 5 peserta. Sedangkan pada tahun 2007, dengan jumlah peserta 12, yang lulus uji kompetensi hanya 6 peserta.
Pada kajian Organizational Behavior Colquitt/LePine/Wesson( 2011:34-35), pembahasannya dimulai dengan menjelaskan tentang  Job Performace, mengapa kajiannya dimulai dengan job performace? “Because understanding the performance is a critical concern for any manager”. Dijelaskan juga dengan suatu contoh pada the universityʹs  athletic director, bahwa dalam melatih atlitnya yang jadi pengukurnya adalah “performance by paying attention to behaviors”. Dengan kata lain, keberhasilan organisasi  dalam menangani pegawainya dapat dilihat dari performance yang ditunjukkan oleh anggota-anggota organisasi tersebut.
Kinerja organisasi tidak lepas dari kinerja anggota-anggota dari organisasi tersebut. Hal ini jelas tergambar dari konsep Job Performance yng dikemukakan oleh  Colquitt (2011:279), bahwa mekanisme organisatoris seperti Organizational culture, Organizational  structure, perilaku kepemimpinan, kekuasaan, proses komunikasi, sampai dengan karakteristik individual yang berperan penting dalam mekanisme individual ( Job Satisfaction,  Stress, Motivation, Trust, Justice,& Ethics, Learning & Decision Making,  yang muaranya pada Job-Performance, seperti gambar 1 berikut.
ORGANIZATIONAL MECHANISM
 
 
Organizational Cultures
 
 
 

Stress
 
Leadership: Styles & Behaviors
 
        GROUP MECHANISM

 
INDIVIDUAL CHARACTERISTICS

Ability
 
 





 Dari konsep yang dikemukakan Colcuitt tersebut jelas tergambar dari beberap factor yang mempengaruhi kinerja, maka faktor Pembelajaran (Learning) merupakan factor yang berperan dalam menetukan kinerja positif maupun negative. Seperti halnya tentang konsep kinerja yang dikemukakan  Campbell, J.P dalam Jason A. Colquitt, Jeffery A. Lepine, Michael J. Wesson (2009), menekankan kinerja secara formal sebagai seperangkat nilai yang disumbangkan dari perilaku pegawai, baik positif maupun negatif terhadap pencapaian tujuan organisasi, demikian pula halnya seperti yang diungkapkan Suyadi Prawirosentono (2009), yang mengkaitkan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar aturan sesuai dengan moral maupun etika.
       “How important is Learning?” Pembelajaran merupakan salah satu hal yang utama yang dapat mempengaruhi kinerja yang terpadu dalam perilaku organisasi, dan juga berdasarkan hasil riset bahwa Job Performance merupakan hal yang menjadi  komitmen organisasi (Organizational Commitment) (Colcuitt, 2011:279-281). Dengan demikian pembelajaran dalam organisasi yang menjadi komitmen organisasi menjadi hal yang penting (merupakan salah satu factor yang mempengaruhi kinerja selain factor-faktor Job Satisfaction,  Stress, Motivation, Trust, Justice,& Ethics).
        Mengutip Winfred F.Hill yang menyatakan, Learning adalah suatu hal yang penting“ yang menentukan siapa diri kita dan apa yang kita kerjakan” yang memberikan kepada kita suatu pengertian yang lebih baik mengenai proses pembelajaran.Seyogyanya manusia mulai dari lahir mengalami proses-proses belajar pada dirinya, tetapi perkembangan karena kematangan fisik bukanlah suatu pembelajaran.Dari pemahaman tentang pembelajaran tersebut jelas menunjuk, bahwa pembelajaran ditujukan pada “seseorang”.
       Dengan demikian pembelajaran tersebut terutama ditujukan pada diri sendiri, yang kemudian efeknya adalah pada suatu lingkungan termasuk organisasi. Oleh sebab itu, konsep tentang diri adalah hal yang juga mempengaruhi pembelajaran, seperti halnya penelitian yang dikemukakan  Eli Ginzberg di Amerika terhadap 342 subyek penelitian yang merupakan lulusan dari berbagai disiplin yang mendapatkan beasiswa dari Columbia University yang umumnya lulus dangan pestasi cum laude dan summa cum laude, seberapa sukses kehidupan mereka setelah lima belas tahun lulus dari pendidikan, mendapatkan, bahwa tidak ada hubungan langsung antara keberhasilan akademik dan keberhasilan hidup. Mengapa demikian? Ternyata kunci keberhasilan hidup dari hasil penelitian tersebut menunjukkan keberhasilan hidup terletak pada konsep diri. Hal ini juga menunjukkan bahwa manusia tidak harus berhenti belajar dan pembelajaran terutama ditunjukkan pada dirinya sendiri. 
       Veithzal Rivai dan Dedy Mulyadi (2009:235),mendefinisikan pembelajaran sebagai perubahan yang relatif permanen dari perilaku yang terjadi sebagai hasil pengalaman. Pembelajaran disini berarti adanya suatu perubahan, jika tidak ada perubahan berarti belum ada pembelajaran.Pembelajaran menunjukkan adanya suatu perubahan diri dari seseorang yang belajar.Pada konteks manajemen, perubahan tersebut bisa jadi perubahan negatif maupun perubahan positif. Orang-orang dapat belajar perilaku-perilaku yang baik, tetapi dapat pula belajar perilaku-perilaku yang tidak baik. Selain itu dalam konteks pembelajaran adalah sifat pembelajaran tersebut dalam kaitannya dengan perubahan,dapat menjadi perubahan yang permanen atau tetap, tetapi dapat pula perubahan yang tidak tetap.
        Bagaimana hubungan antara pembelajaran (Learning) dan konsep diri? Penelitian Eli Ginzberg (dalam Adi W.Gunawan, 2005) di Amerika terhadap 342 subyek penelitian yang merupakan lulusan dari berbagai disiplin yang mendapatkan beasiswa dari Columbia University yang umumnya lulus dangan pestasi cum laude dan summa cum laude, seberapa sukses kehidupan mereka setelah lima belas tahun lulus dari pendidikan, mendapatkan, bahwa tidak ada hubungan langsung antara keberhasilan akademik dan keberhasilan hidup. Mengapa demikian? Ternyata kunci keberhasilan hidup dari hasil penelitian tersebut menunjukkan keberhasilan hidup terletak pada konsep diri. Hal ini juga menunjukkan bahwa manusia tidak harus berhenti belajar dan pembelajaran terutama ditunjukkan pada dirinya sendiri.
       Jadi, pembelajaran yang dilakukan individu tidak lepas dari konsep diri yang dimilikinya seperti halnya konsep diri yang dikemukakan  Sosiolog Viktor Gecas dalam Robert Kreitner dan Angelo Kinicki (2005), menyatakan konsep diri sebagai “konsep yang dimiliki oleh individu atas dirinya sendiri sebagai suatu makhluk fisik, sosial, dan spritual atau moral” yang juga tidak lepas dari seseorang memahami dirinya sendiri sebagai dasar pengembangan diri yang ditandai adanya suatu perubahan yang didapatkan dengan selalu membelajarkan diri sendiri. Dengan memiliki pandangan pada diri dan pemahaman diri tersebut, maka individu dengan konsep diri demikian membutuhkan pembelajaran untuk mencapai cita-cita atau apa yang diinginkan bagi dirinya.
       Perubahan ini dimaksudkan supaya semua potensi, bakat, dan talenta dikembangkan secara optimal, dan menghasilkan sebuah keluaran (output) dengan kualitas terbaik.Perubahan pola pikir tersebut adalah akibat dari kematangan diri yang dimiliki individu. Kematangan diri yang berkaitan dengan konsep diri hanya dimiliki oleh orang dewasa.Hal ini dapat dipelajari dengan ilmu Andragogi, yakni ilmu yang membantu bagaimana agar orang dewasa mau belajar.
       Mendukung konsep pembelajaran diri erat kaitannya dengan konsep Self-Regulated–Learning, yakni pengaturan diri dengan tiga komponen: 1) pengamatan diri sendiri (Self-observation);2)Self-judgment, dan 3)Self-reaction, dari hasil judgment terhadap diri sendiri tersebut, individu yang telah melakukan evaluasi diri atas apa yang telah dicapainya (gambaran kinerjanya sendiri) dapat memperoleh gambaran akan perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan. Oleh sebab itu Self-Learning memerlukan konsep metakognisi, yaitu (a) pengetahuan tentang kognisi, dan (b) mekanisme pengendalian diri dan monitoring kognitif ( John Flavel, 1997; Baker dan Brown, 1984, dan Gagne 1993 dalam Kuntjojo). Senada dengan apa yang diungkap oleh Huitt (1997), bahwa metakognisi merupakan, (a) apa yang kita ketahui atau tidak ketahui, dan (b) regulasi bagaimana kita belajar.
         Hal ini menunjukkan, bahwa diri sendiri adalah pemimpin untuk diri  yang berkuasa melakukan perubahan atas diri sendiri ke arah yang lebih baik atau ke arah yang buruk. Kenyataan ini tidak lepas dari faktor psikologis seseorang seperti telah dijelaskan terdahulu dalam kaitannya dengan konsep diri.Selanjutnya dijelaskan pula oleh Robert Kreitner, seperti berikut:
        Era baru manajemen diri terhadap karier menantang Anda untuk melakukan suatu pekerjaan yang lebih baik dalam menetapkan hasil pribadi, prioritas yang jelas, terorganisir dengan baik, pengelolaan, waktu Anda dengan penuh ketrampilan, dan mengembangkan suatu program pembelajaran diri. Dalam suatu organisasi termasuk sekolah membutuhkan self-learning dari setiap anggota organisasi dan ini sejalan dengan konsep learning-organization. Organisasi adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki tujuan bersama, menghadapi perkembangan atau perubahan zaman yang dinamis, maka organisasi harus selalu mengikuti perubahan tersebut dengan pembelajaran organisasinya yang sangat jelas terkait pula dengan anggota-anggota organisasi tersebut.
       Adanya program pembelajaran diri (self-learning), tidak lepas dari konsep self-regulation, yakni bagaimana mengatur diri dalam belajar. Pada konsep ini ditekankan bahwa, individu yang belajar bertanggung jawab akan pembelajaran yang dilakukannya sendiri (mandiri). Pengertian mandiri disini adalah dalam arti yang fleksibel. Apa yang dilakukan dalam belajar tidak hanya dilakukan sekali, melainkan berkali-kali melewati suatu perenungan akan diri untuk melakukan penyesuaian yang diperlukan (D. L. Butler, & Winne, P. H, 1995).
        Pola Pikir (Mind Set)) tersebut di atas merupakan inti dari Self Learning atau pembelajaran diri. Inilah yang menentukan bagaimana kita memandang sebuah potensi, kecerdasan, tantangan dan peluang sebagai sebuah proses yang harus diupayakan dengan ketekunan, kerja keras, komitmen untuk tercapainya kebehasilan visi dan tujuan hidup.Adapun peranan dari konsep diri dalam perilaku, sebagai inti dari kepribadian akan menentukan kesuksesan seseorang atau keberhasilan seseorang dalam menghadapi masalah.
       Secara khusus Ivor K. Davies (1987:35-36), dalam kaitannya dengan kinerja menentukan empat fungsi umum ciri pekerja guru, seperti berikut.
1.        Merencanakan, yaitu pekerjaan seorang guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran atau yang biasanya disebut dengan RPP.
2.        Mengorganisasikan, yakni pekerjaan seorang guru untuk mengatur dan menghubungkan seorang guru untuk mengatur dan menghubungkan sumber-sumber belajar sehingga dapat mewujudkan tujuan belajar dengan cara yang paling efektif, efesien, dan juga mungkin ekonomis. 
3.        Memimpin, yaitu pekerjaan seorang guru untuk memotivasi, mendorong, dan menstimulasi murid-muridnya, sehingga mereka siap mewujudkan tujuan belajar. 
4.        Mengawasi, yaitu pekerjaan seorang guru untuk menentukan apakah fungsinya dalam mengorganisasikan dan memimpin di atas telah berhasil dalam mewujudkan tujuan yang telah dirumuskan. Jika  tujuan belum  dapat diwujudkan,maka guru harus menilai dan mengatur kembali situasinya dan bukannya mengubah tujuan.
       Guru sebagai ujung tombak pendidikan yang membelajarkan siswa atau anak didik sedianya tidak pernah untuk berhenti belajar, yakni dengan membelajarkan diri sendiri.Konsep belajar sepanjang hayat merupakan prinsip yang dimiliki guru sehingga diharapkan menjadi mind setnya. Dengan guru tidak berhenti belajar akan meningkatkan kemampuan profesionalnya yang berpengaruh pada mutu pendidikan. Konsep self-learning guru tidak lepas dari pemahaman guru akan dirinya sendiri (self-concept), sehingga dengan mindset demikian akan mempengaruhi kinerjanya.Konsep diri yang dimiliki guru menjadikan ia memiliki visi misi untuk mengembangkan potensi diri, mengenal diri sendiri, menjadikan setiap pengalaman sebagai guru yang baik bagi dirinya sendiri, serta melakukan perbaikan demi perbaikan melalui selalu belajar dan belajar yang akan berkontribusi pada keberhasilan guru dalam tugasnya membelajarkan siswa.
          Apakah Self-Learning berpengaruh positif secara langsung terhadap kinerja guru? Berpijak dari pembahasan di atas maka, dapat diduga adanya pengaruh positif secara langsung Self-Learning terhadap kinerja guru.
METODE
 Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan pendekatan kuantitatif. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis jalur (path analysis). Analisis ini untuk mendapatkan hasil pengaruh dari variabel self-learning variable  (X) terhadap variabel kinerja (Y).
        Pengumpulan data menggunakan instrumen angket model skala Likert 1 – 5. Pemberian bobot memiliki makna: 1 untuk menyatakan “tidak pernah”; 2 untuk menyatakan “jarang”, 3 untuk menyatakan “cukup sering”; 4 untuk menyatakan “sering”, dan 5 untuk menyatakan “sangat sering”.Instrumen Kinerja berdasarkan definisi konsep dan definisi operasional dengan dimensi dan indikator sebagai berikut: 1) pembuatan perencanaan pembelajaran yang meliputi: a) perumusan tujuan pembelajaran; b) mengembangkan dan mengorganisasikan materi, media pembelajaran, dan sumber belajar; c) merencanakan skenario kegiatan pembelajaran, d) merancang pengelolaan kelas; e) merencanakan prosedur, jenis, dan menyiapkan alat penilaian, dan  f) tampilan dokumen rencana pembelajaran. 2) pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru yang meliputi: a) pengelolaan ruang dan fasilitas pembelajaran; b) melaksanakan kegiatan pembelajaran;c)  mengelola interaksi kelas; bersikap terbuka dan luwes serta membantu mengembangkan sikap positif siswa terhadap belajar; d) mendemontrasikan kemampuan khusus dalam pembelajaran mata pelajaran tertentu; dan 3) dalam pelaksanaan evaluasi hasil belajar guru dapat melaksanakan evaluasi proses, dan melaksanakan  hasil belajar.Sedangkan Self-Learning dengan indikator-indikator sebagai berikut: 1) Penilaian diri, 2) agenda perbaikan diri, dan 3) penguatan diri.
       Analisis data menggunakan analisis statistika deskriptif dan statistika inferensial. Statistik Inferensial digunakan untuk menguji hipotesis penelitian dan pengujian analisis jalur yang terlebih dahulu dilakukan  pengujian persyaratan analisis, yakni dengan uji normalitas dan uji linearitas dan signifikansi data yang semuanya telah memenuhi persyaratan untuk pengujian hipotesa.
HASIL
         Skor rata-rata yang diperoleh untuk variabel kinerja guru (Y) melalui penyebaran  angket kinerja terhadap 74 orang guru pada 7 sekolah menengah kejuruan negeri di kota Palangka Raya, diperoleh data empiric skor rata-rata kinerja 131,1486,  yang termasuk pada kategori baik. Sedangkan untuk variabel Self-Learning dengan skor rata-rata 94,27, yang dapat dikategorikan baik.
         Hasil pengolahan data, dengan menggunakan perangkat lunak Komputer SPSS versi 19. Dari hasil perhitungan, diperoleh nilai koefisien jalur (py3) sebesar 0,253, dengan thitung = 2,217, pada α = 0,05, diperoleh ttabel ( α =0,05, dk = n-k-1 = 74 -4-1 = 69) = 1,67, karena nilai thitung =  2,217>ttabel, maka tolak Ho, terima H1, yang berarti dari temuan ini ditafsirkan terdapat pengaruh positif langsung Self-Learning terhadap Kinerja.
PEMBAHASAN
Dari temuan ini ditafsirkan terdapat pengaruh langsung Self-Learning terhadap Kinerja. Secara konsep kinerja yang juga identik dengan unjuk kerja dengan wujudnya  terletak pada sebuah prestasi kerja. Tercapainya suatu prestasi kerja adalah hasil dari kemampuan-kemampuan yang ada pada setiap individu yang tentu saja antara satu dengan yang lainnya berbeda.
       Self-learning pada hakikatnya merupakan pembelajaran yang berlaku pada orang dewasa yang sudah memiliki konsep diri atau kematangan diri yang telah memahami tujuan dari apa yang dilakukannya. Pembelajaran yang ditujukan pada orang dewasa yang sudah memiliki pengalaman-pengalaman yang dijadikan salah satu dasar untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya.Selain pengalaman juga kemampuan-kemampuan yang diperoleh lewat pengalaman.Dengan melakukan self-learning diharapkan terjadi suatu perubahan-perubahan kearah yang lebih baik.
      Perubahan adalah kata kunci dari pembelajaran dan tidak ada suatu keberhasilan dalam kehidupan, apabila manusia tersebut tidak belajar atau dengan kata lain tidak melakukan pembelajaran diri. Pembelajaran diri merupakan kesadaran diri dari manusia yang dapat melihat siapa dirinya atau dengan kata lain memiliiki konsep diri. Memahami siapa diri yang sebenarnya dan mengetahui apa yang dibutuhkan oleh diri supaya berhasil. Prestasi atau hasil kerja yang baik tentu tidak lepas dari pembelajaran, terutama pembelajaran yang dilakukan oleh diri sendiri.
Jika dipandang dari sudut manajemen, maka kinerja memiliki tujuan-tujuan pengarahan yang meliputi faktor belajar dan kegembiraan yang saling terkait erat. Pemikiran dasarnya adalah, bahwa kinerja hanya dapat bertahan atau dapat dipertahankan apabila ada kesempatan belajar dan ada kegembiraan di dalam kerja. John Whitmore, menggambarkan empat  prinsip langkah siklus belajar dalam kaitannya dengan kinerja pada gambar 2 di halaman berikut.


Gambar 2   :Empat Prinsip Langkah Siklus Belajar Dalam Kaitannya dengan Kinerja
 
 

Sumber: Whitmore,John, Seni Mengarahkan untuk Mendongkrak Kinerja, terjemahan oleh Dwi Helly Purnomo (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005).,h. 112
      Dari gambar 2 tersebut di atas tampak, bahwa “ketidakmampuan tak sadar” merupakan kinerja rendah disertai tidak adanya pengertian dan “ketidakmampuan sadar” merupakan kinerja rendah disertai dengan pengakuan kekurangan dan kelemahan. “Kemampuan sadar” merupakan kinerja yang meningkat disertai dengan kesadaran dan usaha yang tertata dengan baik. “Kemampuan tak sadar” merupakan kinerja yang sifatnya lebih alamiah, terintegrasi, dan otomotis. Sedangkan aspek kegembiraan terutama dialami lewat perasaaan seseorang karena jaminan fisik yang nyaman, yang harus selalu dicari dari stimulan-stimulan yang dalam, lebih tingggi, lebih cepat, lebih sulit. Adapun bentuk kegembiraan dalam kinerja adalah pengalaman pengekspresian potensi diri yang berupa perjuangan, keberanian, aktivitas, ketidakstabilan, kedekatan, keefektifan, yang kesemuanya akan mengantarkanseseorang pada puncak kegembiraan.
Hal ini didukung pula dengan pendapat Keith Davis dalam A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, faktor yang mempengaruhi kinerja adalah faktor kemampuan dan faktor motivasi, juga pendapat dari Henry Simamoradalam A.A. Anwar Prabu Mangkunegara (2005), bahwa kinerja individu dipengaruhi oleh faktor atribut individu, upaya kerja, dan dukungan organisasi. Sedangkan atribut individu, motivasi, kemampuan adalah faktor-faktor yang penting dalam pembelajaran diri.
      Kinerja yang ditampilkan oleh guru dalam pencapaian mutu pendidikan dilandasi pula dari sikap yang ditampilkan oleh guru tersebut yang dapat dikatakan dipengaruhi pula oleh faktor dari dalam diri guru itu sendiri. Dari beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja tugas guru tersebut adalah variabel pembelajaran diri atau self-learning. Pembelajaran diri atau self-learning merupakan hasil dari motivasi diri yang ada pada guru tersebut untuk selalu mengembangkan dirinya dalam bentuk apapun demi tercapainya kemampuan diri yang baik.Keadaan ini tidak lepas dari konsep diri sang guru sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang, perasaan dan pemikiran individu terhadap dirinya yang meliputi kemampuan, karakter, maupun sikap yang dimiliki individu.
Berpijak dari inti pembelajaran diri (self-learning), yakni pola pikir seseorang dalam memandang dirinya yang ingin selalu berkembang dalam arti tidak pernah puas untuk belajar, dan ini akan diwujudkan dalam kerja. Dengan demikian untuk menghasilkan kerja yang baik perlu memiliki kemampuan dan ketrampilan yang merupakan dimensi dari suatu prestasi kerja atau apa yang dihasilkan dari kerja, yang disebut juga dengan kinerja
Hasil penelitian ini juga menguatkan hasil penelitian Eli Ginzberg di Amerika yang menunjukkan, bahwa konsep diri (sebagai salah satu teori yang melandasi konsep Self-Learning), adalah variabel yang menentukan keberhasilan hidup, yakni konsep diri yang positif. Hasil penelitian itu juga menunjukkan, bahwa prestasi akademik tidak ada hubungan langsung dengan keberhasilan hidup, berarti ada variabel lain yang secara tidak langsung mempengaruhi keberhasilan hidup, salah satunya adalah Self-Learning. Hal ini juga menunjukkan bahwa proses belajar pada diri seseorang berlangsung terus menerus sepanjang hayat dikandung badan.
       Pembelajaran Diri (Self-Learning) berpengaruh langsung positif terhadap Kinerja. Artinya, setiap guru di SMK-NegeriPalangka Raya yang membuka diri untuk menerima kritik yang membangun terhadap dirinya dalam arti memilki penilaian diri serta berkeinginan untuk selalu belajar memperbaiki apa yang kurang di dalam dirinya serta memiliki motivasi belajar dari pengalaman-pengalaman, baik dari dalam dirinya maupun di luar dirinya akan member pengaruh langsung yang positif terhadap kinerja guru.  
        Hasil penelitian ini juga menunjukkan, bahwa pendekatan pembelajaran dengan Self-Directed-Learning seharusnya menjadi perhatian guru dalam pembelajaran di sekolah. Menurut seorang Ahli pendidikan Amerika dengan penelitiannya tentang “experiential learning” yang selanjutnya dikenal dengan Kolb's experiential cycle (1984), menyatakan bahwa pembelajaran pada anak lebih berkesan apabila melibatkan anak atau berpusat pada anak.
KESIMPULAN
        Pembelajaran diri (Self-Learning) berpengaruh positif secara langsung terhadap kinerja. Artinya setiap guru SMK-Negeri Palangka Raya yang membuka diri untuk kritik membangun terhadap dirinya, serta berkenginan untuk selalu belajar memperbaiki apa yang kurang di dalam dirinya serta memiliki motivasi belajar dari pengalaman-pengalaman, baik dari dalam dirinya maupun di luar dirinya akan berdampak secara positif terhadap kinerja guru.
     Akan terdapat peningkatan kinerja guru yang berimplikasi pada 4 (empat) kompetensi yang harus dimiliki  guru profesional sebagai tenaga pendidik seperti yang diamanahkah dalam Undang-Undang RI No. 14 Tahun 2005 pasal 20 ayat b yang salah satunya adalah mengembangkan kompetensi secara berkelanjutan. Akan memberikan penekanan terhadap pentingnya guru melakukan self learning yang dampaknya ada Guru diharapkan dapat mengembangkan potensi diri dengan tidak pernah berhenti untuk selalu belajar. Konsep belajar sepanjang hayat bukan hanya dijadikan semboyan semata, melainkan diiringi dengan tindakan positif untuk selalu melakukan pembelajaran.
       Dengan demikian guru diharapkan dapat mengembangkan potensi yang dimiliki, dengan tidak pernah berhenti untuk selalu belajar. Konsep belajar sepanjang hayat  tidak lagi hanya tinggal “konsep” semata-mata sebagai suatu semboyan, melainkan nyata dalam suatu tindakan yang diwujudkan dalam kinerja sebagai guru professional yang sebenarnya.

 DATAR PUSTAKA

Chaarleta, Mempelajari Teori Konsep Diri, http://charleeta-tzu.blogspot.Com/2010/02/mempelajari-teori-konsep-diri.html, (diakses 12 Desember 2012)
Colquitt, A. Jason ,Jeffery A. LaPine & Micahel J.Wesson, Organizational Behavior Improving Performance and Commitment in the workplace, New York: McGraw Hill, 2011

Daft.L , Richard, Era Baru Manajemen Buku 1.Terjemahan,Jakarta, Salemba Empat, 2011

_____________, Era Baru Manajemen Buku 2, Terjemahan Jakarta : Penerbit salemba Empat, 2011

Gibson, James L, John M. Ivancevich, James H, Donnelly,JR, Organisasi Jilid 1, Perilaku, Struktur, Proses, terjemahan bahasa Indonesia.Tenggerang: Binarupa Aksara Publisher,2002.

Gunawan.W.Adi. Konsep Diri, Jurnal Leadership dan Manajemen, http://leadership-id.blogspot.com/2005/12/konsep-diri-positip-sumber.html (diakses 4 Pebruari 2012)

Ivancevic, John M,dkk, Perilaku dan Manajemen Organisasi Jilid 1, Terjemahan Jakarta, Penerbit Erlangga, 2002

_________________ ,Organizational Behavior and Management Ninth Edition, New York : McGraw Hill Companoes, 2011

Jamaris, Martini, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pendidikan, Jakarta : Yayasan Penamas Murn, 2010

John, Whitmore. Seni Mengarahkan untuk Mendongkrak Kinerja, terjemahan oleh Dwi Helly Purnomo .Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005

Learning , http://www.artikata.com/arti-105490-learning.html(diakses 4 April 2013)

Luthan, Fred, Organizational Behavior, Eleventh Edition, New York: McGraw-Hill Company, 2008

Milton,R. Charles, Human Behavior in Organizations Three Levels of Behavior, Englewood Cliffs,New York : Prentice-Hall, Inc, 1981

Newstrom,W, Johnand Keith Davis, Organizational Behavior: Human Behavior at Work, New York: McGraw Hill Irwin, 2002

Prabu Mangkunegara, A.A. Anwar, Evaluasi Kinerja SDM, Bandung: Aditama, 2005

Rotunda, Maria, Edited by Edwin A.Locke,HandBook of Principles of Organizational Behavior, Second  Edition, New York :  A John Wiley and Sons, Ltd, Publication, 2009

Richard,M, Hodgetts dan Kuratko F. Donald. Management 2nd , New York : McHraw-Hill, Inc, 1988

Slocum, John W,Jr and Don Heilregel, Principles of Organizational Behavior, Fith Edition South Western, Thomson Corporation,2006.

Sunarso,Sumadi,” AnalisisFaktor Yang BerpengaruhTerhadapKinerja Guru  Sekolah Menengah Kejuruan ,”Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia Volume 2 No. 1 Desember 2007.

Strategi Pembelajaran Orang Dewasa, http: // file. upi.edu / Direktori/ SPS/ Prodi. PenddidikanLuarSekolah (diakses tanggal 24 Maret 2013)

Kuntjojo, Metakognisi dan Keberhasilan BelajarPeserta Didik, ( http :// ebekunt, wordpress.com /2009/14/12/metakognisi- dan- keberhasilan belajar-peserta-didik/ html,  diakses 6 Mei 2012)